Pertanyaan itu sering muncul, entah di kepala musisi, kreator, atau orang yang lagi bengong sambil dengerin playlist lama. Seolah dunia sedang butuh satu jenis musik tertentu, tinggal kita tebak arahnya, lalu semua beres.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Zaman ini kayak pasar malam: semua orang datang dengan keperluan sendiri. Ada yang butuh musik buat menenangkan diri setelah hari panjang, ada yang butuh musik yang bisa bikin goyang pas masak mi instan, ada yang butuh suara rumit yang bikin otak mereka merasa cerdas, ada yang pengen eksperimen yang bikin teman-temannya bilang “itu musik atau mesin cuci?”
Ada juga musik untuk belajar, musik untuk makan, musik untuk fokus, musik untuk tidur, musik untuk olahraga, musik untuk putus cinta, musik untuk jatuh cinta, musik untuk pura-pura baik-baik saja. Dan semuanya hidup berdampingan.
Lalu ada sisi yang lebih teknis tapi nyata: kita menciptakan musik supaya didengar. Kalau makin banyak yang dengar, biasanya makin bagus. Kalau banyak yang suka, makin menguntungkan. Dan itu tidak salah. Kita hidup di dunia nyata, bukan di galeri seni utopia.
Tapi selalu ada suara di sisi lain yang bilang, “Kalau bikin musik cuma buat mengejar pendengar, itu kehilangan idealisme. Tidak jujur. Cuma ikut tren.”
Perdebatan itu tidak akan selesai. Karena yang satu bicara soal bertahan hidup, yang satu bicara soal integritas, dan dua-duanya sama-sama benar dari sudutnya masing-masing.
Ada yang tiap hari promosi mati-matian, algoritma dibelai-belai, ikut aturan main, tapi viewer naiknya cuma dua. Ada yang bikin video klip mahal, lighting gila-gilaan, kostum ribet, ternyata tetap tenggelam dalam seminggu. Ada juga yang rekaman di kamar kos, mic pinjam, vokal fals dikit, tapi nyantol di semesta. Viral. Meledak. Bukan rumus, momentum.
Musik sekarang hidup di antara ketidakpastian dan keberuntungan. Dan di tengah itu, ada juga mereka yang bilang, “Yang penting banyak yang suka dan menghasilkan. Titik.” Ya tidak salah juga. Hidup memang mahal.
Lalu ada musisi yang memilih jalur tengah. Separuh mengikuti algoritma biar bisa bayar listrik, separuh tetap menjaga ruang idealis dalam dirinya biar hatinya tidak hancur jadi serpihan. Di zaman ini, kompromi itu bukan kelemahan. Itu cara bertahan.
Kalau kita kembali ke pertanyaan awal, “musik apa yang dibutuhkan zaman ini?”, jawabannya makin absurd. Karena semua jenis musik itu diperlukan. Musik yang menyembuhkan. Musik yang memulihkan relasi sosial. Musik yang easy listening. Musik rumit yang bikin orang terpana. Musik eksperimental yang membelah pikiran. Musik filosofis yang dibedah netizen sampai tiga jam. Musik receh yang bikin orang ketawa. Musik buat belajar. Musik buat makan. Musik yang cuma jadi latar. Musik yang jadi pusat.
Semuanya penting bagi seseorang, di suatu waktu, di suatu ruang, untuk alasan yang mungkin tidak kita pahami.
Dan dari kesadaran itu, pelan-pelan muncul satu ide yang lebih jujur:
Barangkali pertanyaannya dari awal salah format.Bukannya “musik apa yang dibutuhkan zaman ini?”melainkan “musik apa yang ingin aku tambahkan ke zaman ini?”
Pertanyaan kedua ini tidak butuh statistik, tidak butuh menebak selera publik, tidak butuh membaca algoritma TikTok, YouTube, FB dll, Ia cuma butuh satu hal: kejujuran dan ketulusan tentang apa yang ingin kita tinggalkan sebagai jejak.
Dan biasanya, dari pertanyaan itu keluarlah arah yang paling masuk akal.
Musik yang tidak dibuat untuk memuaskan semua orang.Musik yang muncul karena ada yang ingin kamu katakan.Musik yang punya sedikit keberanian, bukan sedikit kecemasan.Musik yang kamu sendiri mau dengar berulang.Musik yang menambah oksigen emosional buat seseorang di luar sana.Musik yang, ketika kamu buat, membuatmu merasa hidup.
Mungkin, Zaman ini tidak sedang menunggu “jawaban musik.” Zaman ini cuma menunggu orang-orang yang berani menambah suaranya ke dalam kebisingan yang besar ini.
Kalau satu orang saja atau beberapa mendengar dan berkata, “aku merasa ditemani,” itu sudah lebih dari cukup.
Atau kalau ada satu orang saja atau beberapa yang mendengar musikmu lalu merasa hidupnya sedikit lebih ringan, sedikit lebih sadar, sedikit lebih terhibur, sedikit lebih waras, maka kontribusimu sudah sampai.
Dan sisanya, biarkan hidup memutuskan sendiri.
Yeach..
Dibuat oleh AI Dengan prompt pemantik dari manusia
****