Musik Zaman Now: Antara Kejujuran, Selera Massa, dan Kekejaman Algoritma
Musik Zaman Now: Antara Kejujuran, Selera Massa, dan Kekejaman Algoritma
Musik hari ini bergerak seperti ombak di tepi pantai—datang cepat, pecah, dan hilang sebelum sempat benar-benar dirasakan. Di era ketika konten harus terus baru, algoritma membenci repetisi dan pengguna cepat bosan, umur sebuah lagu viral bisa hanya dua hari. Tidak mengherankan kalau semuanya terasa cepat busuk, karena kita hidup dalam ritme digital yang memaksa musik berputar terlalu cepat.
Dulu peta musik terasa jelas: pop ya pop, rock ya rock, dangdut ya dangdut. Sekarang batas itu semakin cair. Streaming membuat kita mendengarkan musik seperti mengambil hidangan prasmanan—campur, coba, pindah lagi tanpa rasa bersalah. Identitas musik juga semakin tidak terpaku pada genre; banyak musisi sekarang memulai dari rasa atau vibe, bukan kategori lama. Di Indonesia batas genre memang masih terasa, tetapi semakin keropos. Lagu pop bisa dimasak dengan bumbu koplo, koplo bisa muncul di playlist chill, dan pendengar menerimanya dengan santai. Penontonnya fleksibel, justru industrinya yang kadang bingung mengikuti perubahan.
Di tengah derasnya arus, ada kenyataan lain: umur viral semakin pendek. Siklusnya brutal—sehari naik, dipakai puluhan ribu orang, 48 jam kemudian menghilang, digantikan lagu baru berikutnya. TikTok merotasi konten dengan kecepatan biadab, audiens mengejar sensasi dopamin baru, dan konsep menikmati lagu perlahan berubah menjadi sekadar menyentuh layar untuk lanjut ke konten berikutnya. Musisi yang menggantungkan umur karyanya semata pada viral biasanya ikut tenggelam bersama rotasi algoritma.
Namun di antara semua itu, musik yang jujur masih bertahan. Vibe yang intim, raw, dan terdengar seperti bisikan telinga; perpaduan etnik dengan elemen musikal modern; serta karya yang filosofis dan meditatif—ketiganya cenderung hidup lebih lama dalam memori pendengar. Musik yang lahir dari kesungguhan melekat di hati, sementara musik yang dibuat sekadar demi FYP hanya melekat di timeline.
Menarik juga melihat perbedaan antara Indonesia dan dunia. Pendengar Indonesia sangat emosional; musik yang menggugah perasaan atau menggoyang badan selalu punya ruang. Tren kolaborasi tradisi sedang tumbuh, dan musisi dari daerah makin terlihat. Di dunia, tren “soft life” dan musik intim hasil home recording semakin menguat, sementara etnik-fusion makin besar gaungnya. Genre bukan lagi pagar yang mengurung; yang bertahan hanyalah karakter dari musisinya sendiri.
Secara global, umur sebuah lagu sering mengikuti jalur yang hampir sama: dua minggu viral, dua bulan masuk playlist besar, enam bulan menjadi bagian dari ambience hidup pendengarnya, dua tahun kemudian membangkitkan nostalgia, dan setelah sepuluh tahun mungkin menjadi karya kultus—jika cukup jujur dan kuat. Sementara sebagian besar lagu berhenti di minggu kedua dan terlupakan begitu saja.
Pada akhirnya, publik kini tidak hanya mencari lagu, tetapi juga kompas emosi. Di dunia yang semakin bising dan melelahkan, musik menjadi ruang istirahat, regulator suasana hati, dan tempat orang merasa sejenak ada. Zaman ini membutuhkan musik yang membumi namun luas, yang memberi ruang untuk bernapas, musik yang manusiawi—bukan sekadar hasil olahan mesin. Jika sebuah karya lahir dari ketulusan dan bukan sekadar mengejar tren, justru zaman inilah yang bisa menjadi panggung terbaiknya.