Di dunia pertunjukan, kostum itu selalu diperlakukan seperti hal sepele. Tinggal pakai baju, terus main musik, selesai. Padahal kalau ditarik ke belakang, kostum adalah bagian dari sejarah cara manusia menyampaikan identitas sebelum mulutnya keburu membuka. Dari ritual kuno sampai konser modern, manusia selalu butuh “kulit kedua” untuk menjelaskan diri tanpa banyak kata. Entah karena ingin terlihat berwibawa, liar, sakral, atau sekadar beda dari kerumunan.
Dalam konteks musik, kostum bukan cuma pakaian. Ia adalah visual statement yang mendahului suara. Penonton belum dengar satu nada pun, tapi sudah menafsirkan siapa yang berdiri di depan mereka. Baju itu bekerja sebelum instrumen disentuh. Kadang malah lebih cepat daripada kesan musiknya sendiri.
Ada band yang menjadikan kostum sebagai konsep besar: persona panggung, karakter buatan, topeng, simbol tertentu. Ada juga yang pakai kostum sebagai perpanjangan karakter pribadi: apa yang mereka pakai sehari-hari, itulah yang muncul di panggung. Dua pendekatan ini sah-sah saja, sama-sama punya logikanya. Yang pertama ingin membangun dunia imajinasi, yang kedua ingin menunjukkan kejujuran.
Menariknya, semakin modern musiknya, semakin cair hubungan antara kostum dan identitas. Tidak selalu harus formal, tidak harus seragam, dan tidak selalu harus liar. Yang penting: kostum itu nyambung dengan energi musik dan cara tubuh musisinya bergerak. Musik yang penuh spontanitas biasanya tidak cocok dengan pakaian yang membatasi gerak. Musik yang serius jarang cocok dengan gaya yang terlalu selengekan. Tubuh musisi akan menolak atau menerima baju tertentu, dan itu langsung terlihat di panggung.
Pada akhirnya, kostum adalah dialog antara tiga hal:musik yang dimainkan, kepribadian tiap personil, dan kesan yang ingin dibaca penonton. Kadang dialog itu mengarah ke keseragaman. Kadang malah ke keberagaman. Tidak ada formula baku karena setiap grup hidup dari karakter yang berbeda-beda.
Yang penting dicatat: kostum bukan soal aturan. Ia soal rasa. Soal bagaimana penampilan visual memantulkan vibe musik. Soal bagaimana penonton menangkap energi sebelum nada pertama dimainkan. Soal bagaimana panggung menjadi ruang yang bukan cuma terdengar, tapi juga terlihat.
Semua grup akhirnya menemukan bahasa visualnya sendiri. Ada yang lahir dari kesengajaan, ada yang muncul begitu saja. Dan yang paling menarik: apapun bajunya, selama tidak dibuat secara terpaksa, biasanya kostum itu bekerja dengan baik.
Dibuat oleh AI dengan prompt pemantik dari manusia
****