Dunia sedang membelah diri tanpa dentuman perang atau deklarasi apa pun. Retakannya halus, hampir senyap, tapi terasa di setiap ruang percakapan, kelas, kantor, dan ruang keluarga. Retakan itu memisahkan dua kelompok manusia: mereka yang menjadikan AI sebagai ekstensi pikiran, dan mereka yang tetap hidup dengan ritme lama, tanpa mesin pendamping yang bisa merangkum buku dalam semenit atau merumuskan strategi hidup dalam bentuk paragraf.
Kelompok pertama tumbuh dengan kecepatan tak masuk akal. Mereka memanfaatkan AI dengan cara yang dulu hanya dimiliki oleh minoritas yang “benar-benar pintar”: bertanya, membongkar konsep, mengaitkan disiplin ilmu, lalu menyimpulkan. Para pengguna aktif AI tidak lagi sibuk menimbun pengetahuan; mereka belajar memoles pertanyaan dan memperluas konteks. Pengetahuan bukan lagi beban, tapi bahan bakar kilat.
Di tengah diskusi, mereka bisa langsung memotong percakapan: “Ini sudah ada jawabannya. Tinggal cek.” Sekilas terdengar arogan, tapi itu refleks dunia baru. Masalah sederhana tak perlu menjadi debat berkepanjangan yang memakan energi. Yang dicari adalah pertanyaan tingkat lanjut, celah yang belum terjawab AI, atau ruang-ruang kepekaan manusia yang masih sulit diterjemahkan mesin.Sementara itu, kelompok kedua — para non-pengguna atau pengguna pasif — masih berada dalam pola lama. Mereka mengandalkan hafalan, intuisi, dan obrolan linear yang penuh repetisi. Tidak ada yang salah dengan itu, hanya saja ritme hidup mereka berjalan seperti perangkat analog yang dipasang berdampingan dengan komputasi kuantum. Informasi mereka menetes, bukan mengalir. Saat dunia bergerak seperti air terjun, mereka masih memakai ember.
Jurang yang memisahkan kedua kelompok ini tidak selalu terlihat dalam angka ekonomi. Lebih sering muncul dalam nuansa percakapan: ketidaksabaran kecil, miskomunikasi, atau rasa tidak sinkron. Pengguna aktif AI hidup dalam sirkuit baru, ekosistem mental yang memadukan manusia dan mesin secara mulus. Mereka berpikir dengan pola berlapis dan cepat, sambil mengembangkan radar baru: kemampuan mendeteksi pertanyaan mana yang sudah “selesai” oleh AI dan mana yang masih layak dihadapi lewat dialog manusia.
Sebaliknya, mereka yang tertinggal akan terus mempertahankan cara lama: bertanya tanpa tujuan, mengulang polemik yang sudah ada rangkuman tiga paragrafnya, dan merasa jengkel pada dunia yang terlalu cepat. Tanpa sadar mereka hidup dalam spektrum yang makin berbeda, seperti dua bahasa yang saling mendengar tapi tidak benar-benar saling paham.
Dua dunia baru itu sedang mengental. Yang satu berputar dalam lingkaran belajar kilat, berkolaborasi dengan AI untuk mempercepat pemahaman. Yang lain tetap berjalan seperti sebelumnya, hanya tidak menyadari bahwa ritme itu kini menjadi “dialek lama” dari peradaban. Gap-nya dalam, bukan soal kecerdasan, melainkan soal keterbukaan pada alat bantu yang mengubah struktur pikiran.
Ke depan, jurang ini tidak akan dipenuhi konflik, tapi rasa asing. Kelompok AI akan mencari pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa disentuh mesin. Kelompok non-AI akan berusaha mempertahankan cara berpikir yang terasa lebih alami bagi mereka. Dan dari gesekan dua arus itulah lingkaran sosial baru terbentuk.
Pada akhirnya, manusia tidak terbelah karena teknologi, tapi karena kecepatan yang dipilih masing-masing untuk memahami dunia. AI hanya memperjelas garis itu. Semuanya terjadi perlahan dan diam-diam, sampai tiba-tiba kita menyadari bahwa dua dunia itu sudah berdiri berdampingan.
Dibuat oleh AI Dengan prompt pemantik dari manusia
****