He Sang Sang, Sing Jati AnaSah Ing Suring WewayanganSir Teguh SaciptakuLuput Lembu Sakilan
(Adaptasi dari salah satu mantra yang dulu banyak beredar di masyarakat Jawa. Berisi permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dihindarkan dari segala marabahaya, malapetaka.- Jodhokemil)


MANTRA IKRAR DAN PENGUNGGAHAN

Ini adalah ucapan suci - Sebuah mantra dari ikrar yang luhur, pancaran niat yang jelas. Mantra pengungkap hakikat sejati budi pikiran: tanpa awal, tanpa noda, menjadi dasar senyap di balik tarian kelesah ilusi dan delusi yang senantiasa membayangi, namun tak pernah akan bisa mencemari.
Melalui penyebutannya, ketakutan mereda, kecemasan luluh, batin gamang menjadi bening.
Di kala bumi berguncang dan langit menggemuruh, mantra ini dilantunkan guna membangkitkan keselarasan dan keseimbangan, meringankan derita malapetaka, memulihkan harmoni antara yang tampak dan yang tak kasat mata.
Hanya lewat keteguhan tekad—pikiran yang kokoh dan tak tergoyahkan—seseorang mampu membebaskan diri dari banteng liar hasrat dan penolakan, menghancurkan tembok kebingungan, dan tergugah pada kebenaran tak berbatas yang sejatinya tak pernah pisah dari hakikat diri.
Jabarannya:
1. HE SANG SANG
"HE" adalah vokatif, sapaan respek
"SANG" yang pertama adalah kata sandang yang dipakai didepan kata benda sebagai panggilan kehormatan (Sang Bima), penekanan (Sang nasib), atau seperti dalam mantra ini, sebutan 'Sang' ini memiliki resonansi 'Yang dimuliakan 'atau sakral  (Sang Hyang)'
"SANG" yang kedua digunakan sebagai kata ganti yang merujuk kepada 'Dia', pada 'Yang Tertinggi', transenden, atau sebutan kehormatan untuk 'Kesadaran yang paling dalam dan murni', yang berkonteks sejajar dengan pemahaman 'Ketuhanan yang manunggal, sebagai landasan dan sumber kehidupan'.
2. SING JATI ANA, SAH ING SURING WEWAYANGAN
“Yang Sebenarnya Ada (Sejati), menyatu dengan pantulan di balik bebayangan (perilaku)"
SING JATI ANA: "Yang Sebenarnya Ada" (Yang Sejati, Alam Jati atau realitas yang terkaburkan oleh ilusi). Ini merujuk pada realitas tertinggi dari penampakan, Yang Mutlak di dalam yang relatif, 'the ultimate nature of mind'.
SAH: Dalam bahasa Indonesia, sah biasanya berarti legal, atau sah. Namun dalam konteks ini, dalam bahasa Jawa Kuno atau Jawa spiritual, maknanya lebih bernuansa.Sah= menyatu dengan, selaras, sudah seharusnya begitu. 
SURING: Akar katanya adalah sura/surya, tetapi dalam bahasa Jawa kuno, suring sering merujuk pada bayang, pantulan, bayangan, refleksi atau bahkan dunia batin yang halus di balik penampakan - yang batiniah, tak kasat mata, tak terlihat.
SAH ING SURING WEWAYANGAN= “Yang memang menyatu dengan pantulan bebayangan semua  perilaku"

3. SIR TEGUH SACIPTAKU, LUPUT LEMBU SAKILAN
SIR TEGUH SACIPTAKU: Berniat untuk meneguhkan cipta. 
LUPUT LEMBU SAKILAN:  secara harfiah “bebas dari banteng yang mengamuk” (lembu sakilan dapat melambangkan hasrat nafsu dan penolakan).
LUPUT: lepas dari
LEMBU: sapi, banteng
SAKILAN: dari akar kata kila (kilat), tetapi di sini, kemungkinan besar berasal dari konsep liar, mengamuk, atau sangat kuat.
Dalam sastra Jawa, kata ini digunakan untuk menggambarkan nafsu yang kuat atau kekuatan yang mengganggu, khususnya hasrat, kemarahan, atau nafsu yang tidak terkendali.
LEMBU SAKILAN= gambaran banteng liar yang penuh nafsu—metafora yang melambangkan pikiran yang tak terkendali.
LUPUT LEMBU SAKILAN” berarti melepaskan diri atau terbebas dari keterikatan nafsu liar hasrat dan penolakan, ilusi atau delusi.
Dalam syair lengkapnya:
"He Sang Sang"Oh, Sang Tertinggi
"Sing Jati Ana, sah ing suring wewayangan"Yang Sejati selalu hadir, menyatu dengan pantulan di balik bebayangan
"Luput lembu sakilan"Terbebas dari banteng liar yang penuh nafsu.

****

Interpretasi personal mantra oleh Bapak Salim LeeDitulis setelah menyaksikan penampilan Jodhokemil pada acara Vesak Day 2024, Yayasan Bhumi Atsanti, Bumi Segoro, Borobudur, Magelang